Tuesday, April 19, 2011

Mudahnya Membuat Paspor Di Kanim Pemalang

Kali ini saya akan membahas tentang pembuatan paspor di Kanim Klass II Pemalang. Berhubung reviewnya sangat jarang (belum nemu saat mau bikin paspor), semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi teman-teman yang akan membuat paspor di Kanim Klass II Pemalang.


Baru-baru ini saya mengurus pembuatan paspor baru di Kanim Klass II Pemalang, Jawa Tengah. Kanim ini saya pilih karena lokasi terdekat dari tempat saya tinggal di Pekalongan. Sebelum pembuatan saya mencari-cari informasi, tetapi kebanyakan review dari Kanim-kanim di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Malang, dll. Dengan berbekal persyaratan yang saya peroleh dari website Ditjen Imigrasi RI dan informasi basic dari teman yang sudah pernah buat di Kanim Klass II Pemalang, saya mengurusnya sendiri tanpa bantuan calo.



Pada dasarnya pembuatan paspor melalui tiga tahap, yaitu ambil dan isi formulir, foto dan wawancara, terakhir ambil paspor yang sudah jadi. Untuk pengajuan permohonan paspor sudah bisa dilakukan via online, tetapi belum semua Kanim menjalankan "fitur" baru tersebut. Termasuk Kanim Klass II Pemalang.


Dalam permohonan paspor dibutuhkan dokumen berupa:
  • KTP (asli dan fotocopy). Fotocopy-nya bolak-balik pada satu halaman kertas yang tidak dipotong.
  • Akta kelahiran (asli dan fotocopy).
  • Ijazah terakhir (asli dan fotocopy).
  • Kartu Keluarga (asli dan fotocopy).
  • Surat nikah bagi yang sudah menikah (asli dan fotocopy).
  • Surat rekomendasi dari perusahaan/atasan bagi pegawai negeri ataupun karyawan swasta.

Berikut akan saya jelaskan tahap-tahap permohonan paspor di Kanim Klass II Pemalang.
  1. Datang ke Kanim untuk "membeli" map yang berisi formulir permohonan, surat pernyataan, surat/lembar pengesahan, dan cover paspor hijau. Saya datang pada hari jumat siang. Ingat, datang hanya untuk membeli satu paket tersebut dengan harga Rp. 12.000 di koperasinya yang letaknya bersebelahan dengan loket pengajuan paspor, tidak butuh waktu lama map sudah ada di tangan. Setelah itu langsung pulang dan isi formulir tersebut. Jadikan satu dengan dokumen-dokumen persyaratan dalam satu map. Surat pernyataannya ditandatangani dengan materai Rp. 6.000.

  2. Hari senin datang pagi-pagi (saya datang tepat jam 8, sebelum petugas datang). Langsung tunggu saja di loket penyerahan formulir, setelah petugasnya datang langsung serahkan map yang berisi formulir dan dokumen-dokumen persyaratan. Duduk dan tunggu untuk mendapat nomor antrian.

  3. Butuh waktu yang cukup lama untuk memverifikasi dokumen dan mendapatkan nomor antri. Sekitar dua jam saya baru dapat nomor antri. Itu pun sesekali saya tanyakan kembali ke petugas.

  4. Setelah mendapat nomor antri, duduk kembali dan tunggu dipanggil namanya untuk melakukan pembayaran di kasir (bersebelahan dengan loket permohonan). Bayar biaya paspor, untuk 48 halaman Rp. 255.000 sedangkan untuk 24 halaman Rp. 105.000. Duduk kembali dan menunggu dipanggil nomor urutnya untuk foto dan wawancara.

  5. Pemanggilan nomor urut untuk foto, scanning sidik jari, dan wawancara dilakukan secara kolektif dari nomor sekian sampai nomor sekian. Jadi jangan sampai terlewatkan. Saya mendapat nomor antri 21. Tidak lama setelah membayar nomor antrian saya dipanggil untuk masuk ruang foto dan wawancara. Di ruangan tersebut masih harus ngantri lagi (karena ada beberapa orang juga). Nunggu dipanggil namanya kemudian masuk ke ruang foto dan scanning sidik jari, setelah itu kembali menunggu untuk dipanggil wawancara. Selesai wawancara dilanjut dengan tanda tangan buku paspor, dll.

  6. Setelah itu semua selesai tinggal tunggu 4 hari kerja untuk kembali ke Kanim mengambil paspor yang telah jadi. Simpan baik-baik bukti pembayaran untuk bukti saat pengambilan paspor.


Total waktu yang saya butuhkan hanya sekitar 3,5 jam. Cepat bukan? Dibanding review yang saya baca di Kanim-kanim kota besar ada yang sampai membutuhkan waktu satu hari untuk verifikasi dokumen, datang keesokan harinya untuk foto dan wawancara. Belum lagi menunggu foto dan wawancara ada yang sampai seharian. Mungkin hal ini karena Kanim Klass II Pemalang yang pemohonnya tidak sebanyak di kota-kota besar. Kebanyakan dari mereka adalah pemohon untuk keperluan umroh dan bekerja (menjadi TKI). Sisanya untuk keperluan kunjungan (travelling) dan keperluan belajar.

Dari apa yang saya alami, ada beberapa catatan yang menjadi perhatian. Yaitu:
  • Datang sepagi mungkin (sebelum kantor buka kalau bisa)
  • Datang pada pertengahan-akhir bulan. Pengaruh atau tidak, karena berhubungan dengan waktu penggajian sebagian pegawai di awal bulan yang berpengaruh pada pemohonan paspor.
  • Jangan sungkan-sungkan untuk mengkonfirmasi ke petugas perihal nomor antri. Karena kemarin saya menyerahkan formulir bareng ibu-ibu. Ibu itu dapat nomor antri 5, saya 21. Saya pikir karena saya terselip sama calo-calo. Kalau tidak aktif bertanya bisa-bisa mendapat nomor antri yang lebih lama lagi.
  • Sesi wawancara tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya yang akan ditanyai macam-macam. Ternyata kemarin hanya ditanya mau kemana, tujuan apa, dan mencocokan data diri yang sudah masuk saja. Ya, cuma itu saja. Sangat sederhana bukan...?
  • Dokumen-dokumen sebisa mungkin untuk sudah difotocopy dari sebelum berangkat ke Kanim, jadi tidak ada antri-antri fotocopy di Kanim yang tentunya akan mengurangi waktu.
  • Saat pengambilan paspor bisa diwakilkan oleh orang lain jika yang bersangkutan tidak bisa mengambilnya sendiri, dengan membawa surat kuasa dari pemohon paspor yang ditandatangani di atas materai.

Ini adalah pengalaman saya pribadi dengan tujuan membantu rekan-rekan yang bingung akan membuat paspor. Kebanyakan dari kita tidak ingin ribet dengan membayar calo untuk diuruskan. Tapi menurut saya daripada untuk calo mending untuk modal jalan-jalan. Karena biayanya bisa mencapai dua kali lipat dari biaya pembuatan paspor resmi. Tapi bagi sebagian orang yang sibuk, yang tidak mempunyai waktu untuk mengatri, calo akan sangat membantu. Namun bagaimanapun juga pemohon tetap harus datang untuk foto, scanning sidik jari, dan wawancara.


Baca Selengkapnya...

Monday, April 11, 2011

Police On The Trip

Transportasi adalah salah satu pengeluaran paling besar dalam setiap melakukan perjalanan. Ini menjadi first budget selain penginapan. Paling enak memang bawa kendaraan sendiri untuk berkeliling di tempat-tempat yang kita kunjungi. Kalau kita rombongan atau setidaknya lebih dari dua orang sewa mobil adalah pilihan yang tepat, sedangkan jika hanya berdua sepeda motor is the best choice. Namun dari pilihan itu ada plus minusnya, selain harus tau jalan, menguasai medan, siap repot kalau ban bocor, hingga kemungkinan terburuk ditilang polisi.

Nah, kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya ditilang polisi saat menjalani suatu trip.


Ditilang polisi adalah suatu bentuk pelanggaran yang kita lakukan, tapi pelanggaran itu sering kali tidak kita sadari. Pelanggaran yang berupa dari pribadi kita (misal kondisi kendaraan yang tidak sesuai aturan atau tidak berhelm saat berkendara), dan pelanggaran yang berasal dari faktor luar (misal tidak tahu melewati jalan searah atau tidak sengaja menerobos lampu merah).

Beberapa faktor itulah yang membuat kita ditilang yang akhirnya mengacaukan rencana perjalanan kita. Atau bisa juga karenanya kita mendapat pengalaman tersendiri dan mendapat rencana perjalanan baru yang lebih menyenangkan.

Menjadi seorang budget traveler mengharuskan saya untuk menekan budget seminim mungkin, oleh sebab itulah dalam setiap perjalanan sering kali saya menggunakan sepeda motor sebagai andalan. Perjalanan dengan sepeda motor saya pertama kali saat lulus SMA, waktu itu kami berempat pergi ke Jogjakarta. Saat itu Jogjakarta bukanlah kota yang baru pertama kali saya kunjungi, sebelumnya pernah tapi tidak dengan sepeda motor. Karena naik mobil jadi tidak terlalu memperhatikan jalan. Sedangkan pada trip saya ke Jogja dengan sepeda motor kali ini adalah kali pertama. Berbekal peta mudik dan peta kota Jogja kami berangkat dengan memilih rute Pekalongan-Semarang-Magelang-Jogja. Sesampainya di Ambarawa, tepat di tikungan yang diatasnya dilalui rel kereta wisata Ambarawa-Bedono kami berempat dengan dua motor ditilang. Pelanggarannya adalah kita menyalip mobil-mobil dengan melintasi rambu garis putih jalan yang tidak putus-putus. Mungkin saat itu kami kualat, karena sebelum lewat tikungan itu ada sebuah mobil yang ditilang dan salah satu dari kami ada yang menertawakan mobil itu. Eh, tidak taunya saat polisi yang menilang itu akan kembali ke pos melihat kami melewati garis putih itu. Segera kami dibawa ke pos polisi yang tidak jauh dari lokasi. Kami diberi dua pilihan, mau disidang di Ambarawa kotanya yang jauh dari pos polisi tersebut (yang sudah pasti memakan waktu), atau disidang di tempat. Karena tidak punya banyak waktu dan agar cepat sampai Jogja, kami pilih untuk sidang di tempat. Kami didenda lima puluh ribu rupiah untuk dua motor. Tidak ambil lama setelah urusan beres kami langsung melanjutkan perjalanan ke Jogja.

Perjalanan kedua saat kuliah semester IV, kami berempat dengan dua motor melakukan perjalanan ke Solo. Awal-awal perjalanan seperti biasa, lancar tanpa kendala. Sesampainya di daerah Salatiga ada razia lalu lintas yang diadakan kepolisian setempat. Saya dan teman saya yang satu motor tidak ada masalah, semua lengkap. Celakanya, teman saya satu lagi masa berlaku SIM-nya habis. Dia tidak kontrol sebelum berangkat. Dia menyangka kalau masa berlaku SIM itu adalah tanggal lahirnya karena masa berlaku SIM sama dengan ulang tahun. Saat itu juga teman saya itu langsung ditilang dan merapat ke pos untuk diproses. Di sidang di tempat dengan denda enam puluh ribu rupiah untuk satu pasal. Kami kaget, biasanya tidak segitu. Tapi ya sudahlah apa boleh buat. Tidak perlu proses yang lama akhirnya kami bisa melanjutkan perjalanan kembali ke Solo. Namun, kebodohan dia yang kedua, dia tidak bawa uang banyak untuk trip kali ini. Uangnya habis untuk bayar denda tadi. Alhasil, teman saya yang membawa uang lebih menanggung dia selama trip itu.

Lagi-lagi trip saya di Jogja kena tilang. Saat itu setelah lulus kuliah, kami bertiga berencana ke Jogja untuk suatu keperluan. Setelah urusan selesai kami tercetus untuk ke pantai baron. Dan kamipun berangkat dari Jogja sudah hampir sore. Sedangkan Jogja-Baron butuh waktu sekitar 1,5 jam. Saat bertolak ke Baron, di Jogja ada razia kendaraan. Kami dengan dua motor aman-aman saja tidak ada halangan saat razia tersebut. Saat melintasi jalur Wonosari kami bertemu razia kendaraan lagi. Sebenarnya saat selesai pemeriksaan surat-surat saya sudah diperbolehkan jalan, tapi apes bagi saya. Karena petugas yang lain ada yang teriak ke polisi yang memeriksa saya, "lampunya". Memang motor saya lampunya saya tutup dengan scotlight warna hitam transparan. Lampu itu yang dipermasalahkan. Karena saya tidak tahu dan di Jogja saat razia pun tak masalah saya "ngotot" untuk membela. Tapi saya tetap saja kalah argumen, alhasil karena mereka sudah kadung kesal sama saya, STNK motor saya ditahan untuk bisa diambil di Polres Wonosari keesokan harinya. Sedangkan saat itu kami tidak berencana bermalam di Baron. Mood kami sudah hilang untuk bersenang-senang di Pantai Baron dan salah satu teman saya berniat untuk mengurungkan saja ke Baron untuk mencari dimana Polresnya agar keesokan harinya bisa langsung mengurus STNK. Tapi tidak, rencana awal harus tetap berjalan. Akhirnya kami memutuskan untuk lanjut ke Baron. Dan keapesan kami masih berlanjut, saat sampai alun-alun Wonosari kami kembali berurusan dengan polisi. Awalnya karena kami tidak tahu jalan, kami berbelok menuju ke pos polisi untuk bertanya arah jalan. Tidak tahunya jalan tersebut adalah jalan searah. Kami langsung didatangi polisi untuk ke posnya. Karena kami tidak merasa salah, dan tujuan belokpun karena mau ke pos, akhirnya kami meminta keringanan. Alhasil yang ditilang hanya satu motor dan diproses di tempat dengan menebus dua puluh ribu rupiah. Karena saat itu sudah semakin sore, kami harus bergegas ke Baron. Sesampainya di Baron sudah gelap. Kami cari penginapan, istirahat dan bisa menikmati Baron dan Kukup pagi harinya. Dalam perjalanan menuju ke Jogja kami mampir ke Polres Wonosari untuk mengurus STNK saya yang masih ditahan. Tidak perlu waktu lama STNK sudah ditangan dengan menebus dua puluh ribu rupiah saja. Dengan kejadian itu, kami bisa menikmati pantai baron dan kukup lebih puas, karena kalau tidak ada kejadian tersebut kami sampai pantai sudah sore dan langsung pulang ke Jogja, yang akhirnya kurang puas menikmati pantainya.

Kejadian berurusan dengan polisi kembali terjadi saat trip saya ke Lombok akhir tahun lalu. Saat itu saya berencana keliling kota Mataran dengan motor sendirian. Kebetulan saat itu saya mengendarai motor teman saya yang bekerja di Polda NTB. Saat itu saya akan ke Taman Mayura. Jalan di Taman tersebut adalah jalan searah, saya tahu dan untuk kesana harus lewat jalan belakang. Namun sebelum sampai di depan Taman Mayura ada tikungan, karena tidak tahu tempatnya saya belok ke tikungan tersebut yang rupanya masih jalan satu arah. Saat mau balik arah (dapat teriakan dari warga bahwa jalan itu searah) dari arah berlawanan ada petugas yang sedang patroli. Dibawalah saya ke pos polisi. Karena jaraknya yang cukup jauh dari TKP, saya disuruh mengikuti polisi tersebut. Dengan bantuan teman saya (yang juga pemilik motor tersebut) yang bekerja di Polda, saya ditelpon dengan atasannya untuk berbicara dengan petugas yang menilang saya. Tanpa babibu STNK saya langsung diserahkan tanpa denda apapun. Bukannya gimana-gimana, saya merasa rambu-rambu di tempat saya ditilang tidak informatif. Hanya ada keterangan jalan satu arah di jalan mau masuknya saja yang otomatis kalau lewat jalan di belakang Taman Mayura tidak terlihat. Yang saya ingat dari polisi yang menilang saya, dia bilang "lain kali kalau punya saudara, teman, atau kerabat di polisi bilang". Dalam hati saya, sekalinya saya bilang seperti itu pun tidak mungkin percaya begitu saja. Lagipula dari awal saya sudah bilang itu motor punyanya anak polda.

Itu hanya pengalaman yang saya alami saja, tidak ada maksud apapun. Hanya berbagi setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Seperti saat perjalanan ke Jogja, kami bisa beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Saat ke Pantai Baron, akhirnya kami bisa menikmati pantai lebih lama karena mau tidak mau harus bermalam disana. Saat di lombok pun dapat pelajaran, kita harus lebih teliti dalam setiap melalui jalan yang baru kita lalui.


Baca Selengkapnya...